Tanning Nabati


Kulit Nabati Sapi
Pengolahan kulit atau di Indonesia lebih dikenal dengan penyamakan kulit dilakukan dengan proses yang tidak sebentar. Selain itu proses pengolahan kulit mempunyai tahapan proses yang tidak sedikit. Tahapan proses utama proses pengolahan kulit terdiri dari Beam House Operation, Tanning, Pasca Tanning dan Finishing belum termasuk dry process seperti shaving dan buffing. Hampir semua tahapan proses pengolahan kulit sebagian besar menggunakan beberapa bahan kimia yang tentu saja berbahaya bagi kesehatan, terutama pada proses BHO.
Proses tanning yang merupakan inti dari proses pengolahan kulit bertujuan untuk merubah kulit yang mudah busuk menjadi tidak mudak busuk. Bahan kimia yang paling banyak digunakan adalah krom yang berbentuk serbuk berwarna kehijauan dalam bentuk krom sulfat. Walaupun krom juga terkandung dalam tubuh kita dalam jumlah yang sedikit, akan tetapi jika sampai masuk dalam tubuh dalam jumlah yang berlebih maka akan mengganggu kesehatan.
Penggunaan krom di klaim sudah tidak berbahaya karena krom yang digunakan mempunyai bilangan oksidasi III. Sedangkan krom yang berbahaya adalah krom dengan bilangan oksidasi VI seperti pada K2Cr2O7 yang berwarna jingga. Akan tetapi pada kenyataannya penggunaan krom bilangan oksidasi III sebagai bahan tanning dapat berubah menjadi krom VI apabila teroksidasi selama proses pengolahan kulit. Selain itu pada penyimpanan yang kurang baik kulit wet blue atau kulit yang sudah disamak dengan krom dapat merubah krom III menjadi krom VI. Penyimpanan kulit wet blue yang kurang baik biasanya terjadi jika kulit terpapar oleh sinar matahari sehingga akan terjadi proses oksidasi.
Salah satu alternatif bahan yang digunakan pada proses tanning adalah Vegtan atau Vegetable tanning yang biasa disebut nabati. Bahan ini berasal dari tumbuhan baik dari akar, batang, ataupun daun yang mengandung bahan tannin. Gugus aktif yang terdapat pada zat penyamak nabati adalah gugus hidroksil (-OH) yang terdapat pada komponen aromatis polifenol. Gugus inilah yang nantinya membentuk ikatan hidrohen dengan amina pada ujung rantai samping bebas dari asam amino.
Zat penyamak nabati mempunyai sifat-sifat fisik yang mudah dikenali diantaranya berwarna coklat muda sampai tua, rasa sepet (sepat) di lidah, mudah lengket di tangan dan akan berubah menjadi biru tua apabila terkena besi. Sedangkan jika dilihat dari sifat kimianya, zat penyamak nabati mempunyai sifat diantaranya mudah teroksidasi menjadi coklat tua, dapat membentuk kompleks yang kuat dengan karbohidrat dan mengendapkan protein, molekul akan mengalami perbesaran (agregasi) pada pH asam (kecuali golongan hidrolisa), molekul membesar pada konsentrasi tinggi dan mengecil pada konsentrasi rendah dan yang terakhir pada temperature yang tinggi zat penyamak nabati akan terhidrolisa.


Secara umum zat penyamak nabati merupakan komponen molekul besar dengan BM mencapai 300-5000 dengan formula empiris C76H52O46 yang disebut Tannic acid, tidak berwarna hingga kuning pucat. Merupakan glukosida yang mempunyai lima gugus hidroksil dari molekul glukosa yang diesterifikasi dengan molekul digallic acid. Zat penyamak nabati dapat dikatakan merupakan komponen polifenol yang besar yang mengandung hidroksil (-OH) dan gugus lainnya seperti gugus karboksilat, membentuk ikatan kompleks yang kuat dengan protein dan molekul lain.
Dilihat dari komponen penyusun zat penyamak nabati dibagi menjadi dua golongan besar yaitu golongan zat penyamak nabati hidrolisa dan zat penyamak nabati kondensasi. Dalam zat penyamak nabati golongan hidrolisa atau disebut pyrogallol tan terdapat molekul tannin yang merupakan polyol carbohydrate (D-glukose), yang mana gugus hidroksil baik keseluruhan atau parsial ter-esterifikasi (ikatan ester) dengan gugus hidroksil fenola seperti gallic acid (pada gallotannins) atau ellagic acid (pada ellagitannins). Disebut hidrolisa karena zat penyamak nabati ini dalam suasana asam atau basa kuat menghasilkam karbohidrat dan asam fenolat. Fermentasi jangka panjang menyebabkan hidrolisa ikatan ester yang menghaslkan asam tak larut seperti ellagic tannin. Zat penyamak nabati hirdrolisa kurang mempunyai daya samak (astringency) dibandingkan dengan tipe kondensasi. Golongan ini mudah terhidrolisa karena ikatan ester yang kurang stabil terhadap suasana asam atau basa kuat. 
Zat penyamak nabati kondensasi dikenal juga sebagai proanthocuanidins atau catechol tan yang merupakan polimer yang tersusun atas 2 sampai 50 unit flavonoid yang bergabung melalui ikatan kovalen carbon-carbon (C-C), yang sangat sulit untuk terurai terhidrolisa. 
Semakin besar berat molekul (BM) dari zat penyamak nabati yang digunakan maka daya samaknya akan semakin tinggi akan tetapi penetrasinya ke dalam kulit akan semakin lambat. Sebagai contoh catechol tan cenderung memberikan warna kemerahan dan astringency nya sangat tinggi. Apabila didiamkan dalam larutan maka akan terjadi endapan kemerahan dari phlobaphenes seperti mimosa, quebracho, dan mangrove. Konsep penyamakan nabati adalah diawali dengan penetrasi zat penyamak nabati yang tinggi dan fiksasi lambat kemudian diakhiri dengan penetrasi zat penyamak nabati uang lambat dan fiksasi cepat.
Hasil akhir kulit tanning nabati (babakan kayu) mempunyai suhu kerut 75-80 0C. Suhu kerut maksimal yang bisa tercapai 85 0C tergantung dari bahan yang digunakan.
Share:

Related Posts: