Assalamu'alaikum warrahmatullaahi wabaraakatuh.
Melanjutkan pembahasan matting agent artikel sebelumnya. Kita telah mengetahui bahwa matting agent merupakan bahan yang digunakan untuk menurunkan tingkat kilap (gloss) pada lapisan finishing. Pada pembahasan kali ini, kita akan melihatnya dari sisi yang lebih praktis, yaitu bagaimana memahami dan melakukan problem solving terhadap masalah tingkat kilap pada proses finishing.
Pentingnya Pengukuran dalam Proses Finishing Kulit
Salah satu hal yang masih menjadi tantangan dalam industri pengolahan kulit adalah terbatasnya kegiatan pengukuran dan pengujian terhadap bahan finishing, baik terhadap bahan sebelum dicampur maupun terhadap campuran finishing yang sudah siap diaplikasikan. Salah satu parameter yang dapat dijadikan contoh adalah tingkat kilap (gloss).
Tidak semua industri, usaha atau pabrik pengolahan kulit memiliki alat pengukur tingkat kilap seperti glossmeter. Sebenarnya, bagi sebagian indsutri kulit, pengukuran tersebut mungkin belum dianggap sebagai sesuatu yang terlalu penting. Salah satu alasannya adalah karena bahan binder top coat yang digunakan umumnya sudah tersedia dalam kondisi ready for use (RFU).
Dengan kata lain, pengguna cukup melakukan penyesuaian tertentu, misalnya dengan menambahkan air sesuai rekomendasi, kemudian bahan tersebut dapat langsung diaplikasikan menggunakan spray gun atau metode aplikasi lainnya. Selain itu, karakteristik kilap dari binder top coat yang digunakan biasanya sudah berada pada tingkat tertentu, tidak terlalu glossy, tetapi juga tidak terlalu matte. Namun, kondisi tersebut dapat menjadi masalah ketika muncul ketidaksesuaian tingkat kilap pada hasil akhir.
Mengapa Pengukuran Gloss Menjadi Penting
Pengukuran terhadap kemikalia finishing menjadi sangat penting ketika kita menghadapi masalah yang telah kita bahas pada artikel sebelumnya. Masalah utamanya adalah kita sering kali tidak mengetahui secara pasti tingkat kilap asli dari binder top coat yang digunakan.
Ketika terjadi penyimpangan tingkat kilap pada kulit, tindakan yang dilakukan adalah mengganti compact binder yang digunakan pada lapisan medium coat. Cara tersebut memang dapat menghasilkan perubahan, tetapi belum tentu menyelesaikan akar masalah. Jika kita hanya mengganti compact binder dengan jenis lain tanpa mengetahui kontribusi masing-masing lapisan terhadap tingkat kilap akhir, maka kemungkinan besar masalah yang sama akan muncul kembali di kemudian hari.
Pertanyaan kemudian adalah :
Bukankan akan lebih baik jika kita dapat menentukan terlebih dahulu kontribusi masing-masing bahan finishing, sehingga jenis compact binder apapun yang digunakan tetap dapat menghasilkan tingkat kilap akhir yang sesuai dengan target?
Disinilah pengukuran gloss terhadap bahan finishing menjadi penting.
Menentukan Tingkat Kilap Asli Binder Top Coat
Salah satu cara sederhana untuk mengetahui karakteristik asli dari binder top coat adalah dengan mengaplikasikannya pada permukaan kaca. Penggunaan kaca sebagai substrat bertujuan untuk mendapatkan permukaan yang relatif seragam sehingga pengukuran tingkat kilap tidak terlalu dipengaruhi oleh karakteristik permukaan kulit maupun permukaan medium coat. Namun, agar hasil pengukuran dapat digunakan sebagai pembanding, kondisi aplikasinya juga harus diperhatikan. Sebaiknya ketebalan film basah (wet film thickness) dan/atau jumlah binder yang diaplikasikan pada substrat kaca. Dengan demikian, jumlah atau ketebalan binder yang digunakan dapat dibuat sedekat mungkin dengan kondisi ketika binder tersebut diaplikasikan pada kulit.
Setelah mengethaui tingkat kilap asli dari binder top coat, kita akan memiliki titik acuan untuk memperkirakan kontribusinya terhadap tingkat kilap akhir pada kulit. Contoh sedehana :
Misalnya, setelah diaplikasikan pada kaca, binder top coat yang kita gunakan memiliki tingkat kilap sebesar 40 GU. Kemudian, setelah diaplikasikan pada kulit dengan sistem finishing tertentu, tingkat kilap yang diperoleh hanya 10 GU. Perbedaan yang cukup besar tersebut memberikan indikasi bahwa tingkat kilap akhir tidak hanya ditentukan oleh binder top coat, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh lapisan finishing sebelumnya, misalnya medium coat.
Sebaliknya, apabila kita modifikasi top coat dengan menambahkan matting agent sehingga tingkat kilap top caot pada kaca dapat diturunkan menjadi 10 GU, maka top coat tersebut memiliki kemampuan untuk membatasi tingkat kilap akhir pada permukaan kulit hingga mendekati target tersebut.
Dengan pendekatan seperti ini, kita tidak lagi hanya berusaha mengganti compact binder ketika terjadi masalah, tetapi mulai melakukan pendekatan berdasarkan kontribusi masing-masing lapisan finishing terhadap hasil akhir. Secara organoleptis, perbedaan tersebut mungkin tidak selalu mudah diamati secara visual. Namun, dengan menggunakan glossmeter, perubahan tingkat kilap tersebut dapat diukur secara objektif.
Matting Agent VS Polyurethane
Hal lain yang perlu dipahami adalah adanya perbedaan antara matting agent dan matt polyurethane. Keduanya memang memiliki tujuan yang sama, yaitu menghasilkan permukaan dengan tingkat kilap yang lebih rendah, tetapi prinsip kerjanya berbeda.
Matting agent pada dasarnya merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam sistem binder untuk menurunkan tingkat kilap. Penurunan tingkat kilap tersebut pada dasarnya terjadi melalui mekanisme fisik, sehingga matting agent tidak harus membentuk ikatan kimia dengan binder. Karena prinsipnya berupa penambahan bahan untuk digunakan pada berbagai jenis binder, selama kompatibilitas, stabilitas, dan performa sistem finishing tetap terpenuhi.
Sementara itu, matt polyurethane merupakan binder polyurethane yang sejak proses pembuatannya telah dirancang secara kimia untuk menghasilkan karakteristik permukaan dengan tingkat kilap yang rendah atau matte.
Dengan demikian, perbedaan sederhananya dapat digambarkan sebagai berikut :
Perbedaan prinsip tersebut menjadi penting ketika kita menyusun formulasi finishing. Jika kita menggunakan matting agent, kita dapat melakukan penyesuaian tingkat kilap pada berbagai sistem binder dengan mengatur jenis dan jumlah matting agent yang digunakan. Sedangkan ketika menggunakan matt polyurethane, kita perlu mempertimbangkan kompabilitas dengan binder atau komponen finishing lainnya, karena karakteristik matte tersebut merupakan bagian dari desain kimia binder itu sendiri.
Oleh karena itu, pemilihan antara matting agent dan matt polyurethane tidah hanya berkaitan dengan seberapa matte hasil akhirnya, tetapi juga harus mempertimbangkan sistem finishing secara keseluruhan. Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai matt polyurethane, jurnal yang membahas topik tersebut dapat diunduh disini.
Penutup
Dari pembahasan tersebut, dapat kita lihat bahwa problem solving dalam finishing kulit sebaiknya tidak hanya dilakukan dengan metode trial and error, misalnya dengan mengganti satu jenis binder dengan binder lainnya. Dengan melakukan pengukuran terhadap bahan finishing sejak awal, kita dapat memperoleh gambaran mengenai kontribusi masing-masing komponen terhadap karakteristik akhir kulit.
Dalam kasus tingkat kilap, glossmeter dapat menjadi alat yang sangat membantu untuk mengetahui apakah sumber permasalahan berasal dari top coat, medium coat, substrat kulit, atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut.
Dengan demikian, formulasi finishing dapat dikembangkan berdasarkan data pengukuran, bukan hanya berdasarkan pengamatan visual atau pengalaman.
Wassalamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh.
