Matting Agent in Leather bag 1


 

Assalamu'alaikum warrahmatullaahi wabaraakatuh

Beberapa waktu yang lalu, mungkin sekitar 1 hingga 2 tahun yang lalu, kami mendapatkan pertanyaan mengenai permasalahan gloss atau tingkat kilap pada hasil akhir finishing kulit. Permasalahan tersebut bermula ketika sebuah perusahaan mengalami kehabisan stok compact binder yang biasa mereka gunakan. Sayangnya, pada saat itu kami belum sempat menggali informasi lebih jauh mengenai proses Research adn Development (R&D) yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.

Kami tidak mengetahui apakah bagian R&D melakukan pengembangan compact binder baru dari supplier yang sama dengan nama product patent yang sama, menggunakan product patent yang berbeda, atau bahkan sepenuhnya beralih ke supplier lain. Yang kami ketahui, mereka memang telah mencoba menggunakan beberapa jenis compact binder dari supplier yang berbeda.

Informasi mengenai sistem finishing yang kami peroleh juga sangat terbatas. Kami hanya mendapatkan informasi bahwa medium coat mengandung compact binder. Compact binder yang selama ini biasa digunakan oleh perusahaan tersebut selanjutnya kita sebut sebagai compact binder A. Setelah medium coat mengering, kemudian diaplikasikan top coat sebagai lapisan akhirnya. Sayangnya komposisi medium coat maupun top coat tidak diinformasikan kepada kami. Bahkan, nama product patent dari compact binder maupun jenis binder utama yang digunakan juga tidak diketahui. Informasi mengenai base coat yang digunakan pun tidak tersedia. Kemungkinan besar, informasi tersebut memang merupakan bagian dari kerahasiaan formulasi dan proses produksi perusahaan.

Permasalahan Mulai Muncul Ketika Compact Binder Diganti

Masalah mulai terlihat ketika compact binder A diganti dengan compact binder jenis lain. Hasil akhir setelah top coat menunjukkan tingkat kilap yang lebih tinggi dibandingkan ketika menggunakan compact binder A. Pada saat itu, pengukuran tingkat kilap masih dilakukan secara organoleptis, yaitu berdasarkan pengamatan visual setelah aplikasi top coat atau setelah seluruh proses finishing selesai. Berbagai jenis compact binder dari berbagai supplier telah dicoba. Namun, hasil akhirnya tetap menunjukkan kecenderungan yang sama yaitu tingkat kilap yang lebih tinggi dibandingkan hasil diperoleh dengan compact binder A.

Perihal yang mereka tanyakan adalah, 

Apakah ada compact binder dari supplier lain yang setelah diaplikasikan top coat tetap dapat menghasilkan permukaan yang doff atau matte seperti compact binder A?

Pertanyaan tersebut sebenarnya menarik untuk kita telaah lebih jauh. Namun, sebelum kita melanjutkan pembahasan, coba tanyakan terlebih dahulu kepada diri anda sendiri :

Jika anda menghadapi kasus yang seperti ini, apa yang akan anda lakukan?

Solusi apa yang akan anda tawarkan?

Apakah anda akan langsung menyimpulkan bahwa compact binder adalah penyebab utama tingginya tingkat kilap?

Jawabannya mungkin terlihat sederhana. Tetapi justru disinilah menariknya proses problem solving dalam formulasi finishing

Sebelum menentukan penyebab dan solusinya, kita perlu memahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan gloss atau tingkat kilap.

Apa itu Gloss atau Tingkat Kilap?

Secara sederhana, gloss atau tingkat kilap dapat dipahami sebagai kemampuan suatu permukaan untuk memantulkan cahaya secara terarah atau spekular. Journa istilah gloss dapat didownload disini dan disini.
Semakin banyak cahaya yang dapat dipantulkan secara terarah oleh suatu permukaan, maka permukaan tersebut akan terlihat semakin mengkilap. Sebaliknya, ketika permukaan menyebabkan tersebar ke berbagai arah, kemampuan pantulan spekularnya menjadi lebih rendah sehingga permukaan terlihat semakin doff atau matte.

Contoh paling sederhana dapat kita lihat ketika membandingkan permukaan kaca dengan permukaan kayu yang tidak difinishing. Kaca mampu memantulkan cahaya secara lebih terarah sehingga terlihat sangat mengkilap, sedangkan permukaan kayu yang kasar menyebabkan cahaya tersebar sehingga terlihat jauh lebih matte.

Untuk mengukur tingkat kilap secara objektif, digunakan alat yang disebut glossmeter. Hasil pengukuran gloss umumnya dinyatakan dalam Gloss Unit (GU). Beberapa instrumen atau metode pengukuran juga dapat menggunakan persentase reflektansi, tergantung prinsip dan standar pengukuran yang digunakan

Dengan adanya pengukuran tersebut, istilah seperti gloss, semi-gloss, satin, matte atau doff sebaiknya tidak hanya digunakan berdasarkan pengamatan visual, tetapi juga dikaitkan dengan nilai pengukuran yang diperoleh.

Doff, Matte, Gloss -- Apakah Hanya Sekedar Istilah?

Dalam praktik sehari-hari di industri, istilah tingkat kilap sering kali digunakan secara sederhana. Permukaan yang terlihat mengkilap biasanya disebut gloss, sedangkan permukaan yang terlihat tidak mengkilap sering disebut doff atau matte. Padahal tingkat kilap sebenarnya berada dalam suatu rentang nilai, bukan sekedar dua kondisi : mengkilap atau tidak mengkilap.

Sebagai ilustrasi, suatu permukaan dengan tingkat kilap yang relatif rendah dapat disebut matte atau doff, sementara tingkat kilap yang lebih tinggi dapat dikategorikan satin, semi-gloss, medium gloss, gloss dan high gloss. Batas nilai untuk masing-masing kategori dapat berbeda tergantung standar, sudut pengukuran, jenis material dan referensi yang digunakan. Karena itu jauh lebih baik jika istilah tersebut disertai dengan nilai hasil pengukuran dalam GU ataupun %, daripada mengatakan :
"Kulit ini gloss-nya tinggi"
atau
"Kulit ini suda cukup doff"
Dengan adanya angka, pembahasan jadi lebih objektif dan dapat dibandingkan.

Mengapa Permukaan Kasar Cenderung Lebih Matte?

Salah satu faktor yang dapat menyebabkan rendahnya tingkat kilap adalah ketidakteraturan atau kekasaran permukaan. Pada permukaan yang relatif halus, cahaya yang datang dapat dipantulkan secara lebih terarah. Kondisi inilah yang menghasilkan pantulan spekular dan membuat permukaan terlihat lebih mengkilap. Sebaliknya pada permukaan yang lebih kasar atau tidak rata, cahaya yang datang akan dipantulkan ke berbagai arah. Akibatnya, pantulan spekular menjadi lebih rendah dan permukaan terlihat lebih matte.

Prinsip diataslah yang kemudian dimanfaatkan dalam formulasi bahan matting agent

Salah satu bahan yang umum digunakan untuk menghasilkan efek tersebut adalah silika. Partikel silika dapat dimodifikasi topografi permukaan lapisan finishing, sehingga permukaan menjadi lebih difus dalam memantulkan cahaya dan pada akhirnya menurunkan tingkat kilap. Karena salah satu fungsi utamanya adalah menurunkan tingkat kilap, bahan tersebut kemudian dikenal sebagai matting agent.

Dari sini kita mulai mendapatkan petunjuk penting.

Jika tingkat kilap merupakan hasil interaksi antara cahaya dengan permukaan, dan karakteristik permukaan dapat dipengaruhi oleh lapisan finishing, maka pertanyaannya menjadi :

Apakah perubahan compact binder saja benar-benar dapat menjelaskan tingkat kilap yang terjadi? Atau sebenarnya ada lapisan lain dalam sistem finishing yang turut berperan?

Pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada bagian problem solving berikutnya

Bersambung...

Wassalamu'alaikum warrahmatullaahi wabaraakatuh