Beberapa tahun yang lalu, ada mahasiswa yang datang ke tempat kami untuk sedikit membahas Tugas Akhir-nya. Kebetulan Tugas Akhir yang diangkat bertemakan tentang finishing. Waktu kami baca, kami tertarik ada istilah Tg yang disebutkan, tetapi tanpa ada penjelasan.
Kami mencoba menanyakan kepada mahasiswa "Apakah Tg itu?"
Mahasiswa menjawab. " Tg adalah perubahan binder dari lunak menjadi keras. "
Sontak kamipun tertawa, dan kamipun bertanya " Dari siapa kamu mendapat jawaban itu? "
Mahasiswapun menjawab " Dari.... " :)
Itulah sedikit cerita bahwa kadang kita perlu melakukan crosscheck terhadap apa yang kita dengar. Belum tentu apa yang mereka katakan "pasti" benar.
Apa itu Tg?
Mengetahui Tg di industri pengolahan kulit memang tidak terlalu penting dalam pekerjaan sehari-hari. Kita biasanya hanya diberitahu bahwa finishing semakin ke atas (dari base ke top) menggunakan binder yang semakin keras.
Tetapi kemudian muncul pertanyaan :
Bagaimana kita mengetahui bahwa binder tersebut memang lebih keras? Bagaimana cara mengukurnya?
Pada prakteknya, kita lebih sering menggunakan binder berdasarkan fungsi yang tertulis pada TDS (Technical Data Sheet) dari produsennya.
Tg adalah Glass Transition Temperature, yaitu temperatur ketika polimer mengalami transisi dari keadaan glassy yang relatif keras dan kaku menuju keadaan yang lebih rubbery atau fleksibel.
Jadi, Tg bukan berarti binder berubah secara sederhana dari "lunak menjadi keras" atau sebaliknya. Tf lebih tepat dipahami sebagai suatu daerah transisi dalam sifat fisik/mekanik polimer akibat perubahan mobilitas rantai polimernya.
Secara umum, semakin tinggi Tg suatu polimer, film yang dihasilkan cenderung semakin keras dan kaku. Sebaliknya, polimer dengan Tg yang rendah biasanya menghasilkan film yang lebih lunak dan fleksibel.
Apa hubungan dengan MFFT?
Selain Tg, pada binder berbasis emulsi kita juga mengenal istilah MFFT (Minimum Film Formation Temperature), yaitu suhu minimal yang dibutuhkan polimer untuk menyatu dan membentuk film yang kontinyu (tidak pecah)
Secara umum binder dengan Tg yang lebih tinggi cenderung mempunyai MFFT yang lebih tinggi pula. Namun, Tg dan MFFT bukanlah hal yang sama dan hubungan keduanya tidak selalu linier. Karena MFFT juga dipengaruhi oleh formulasi, ukuran partikel, surfaktan, plasticizer, coalescent, dll
Sebagai contoh misalnya suatu binder mempunyai MFFT sekitar 60°C.
Jika binder tersebut diaplikasikan pada suhu ruang, misalnya sekitar 25°C, maka secara teoritis kondisi tersebut berada di bawah MFFT. Partikel binder akan sulit mengalami deformasi dan berkoalesensi dengan sempurna. Akibatnya, film yang terbentuk dapat menjadi tidak kontinyu, mudah retak, bahkan sudah retak dan bisa menghasilkan permukaan yang menyerupai serbuk.
Kita juga mengetahui bahwa jika terjadi film yang retak maka kita bisa menambahkan plasticizer.
Tetapi apakah plasticezer itu? Apa fungsi utamanya?
Apa perbedaannya dengan Coalescent?
Apakah ada perhitungan penggunaan plasticizer?Apakah penambahan kedua bahan tersebut berpengaruh terhadap waktu kering?
Apakah kalian mengetahui cara mengukur kekerasan film menggunakan pendulum hardness?
Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabaraakatuh
