Solid Content

 


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada video sebelumnya, kita telah membahas tentang coating amount dan bagaimana cara mengatur jumlah bahan finishing yang diaplikasikan agar sesuai dengan target yang diinginkan.

Misalnya, kita berhasil mengaplikasikan bahan finishing dengan coating amount sebesar 10 gram per square foot atau 10 g/ft².

Pertanyaannya, apakah setelah proses pengeringan, berat bahan finishing yang tertinggal pada kulit juga sebesar 10 g/ft²?

Tentu saja tidak.

Hal ini karena bahan finishing umumnya mengandung air atau pelarut yang akan menguap selama proses pengeringan.

Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas salah satu parameter penting yang berkaitan dengan fenomena tersebut, yaitu solid content.

1. Apa Itu Solid Content?

Secara sederhana, solid content atau kadar padatan adalah persentase berat residu yang tersisa setelah komponen volatil, seperti air atau pelarut, dihilangkan melalui proses pengujian tertentu.

Pernahkah Anda memperhatikan Technical Data Sheet atau TDS dari bahan finishing, khususnya binder?

Pada TDS, biasanya terdapat informasi mengenai solid content atau non-volatile content (NV), yang dinyatakan dalam satuan persen.

Sebagai contoh, binder A memiliki solid content sebesar 30%.

Artinya, berdasarkan metode pengujian yang digunakan, setiap 100 gram binder menghasilkan residu kering sebanyak kurang lebih 30 gram.

Perhitungannya adalah:

Solid content = (berat residu kering / berat sampel awal) × 100%

Jadi: Solid content = (30 / 100) × 100% = 30%.

Dengan demikian, dari 100 gram binder A, terdapat sekitar 30 gram residu kering dan 70 gram komponen yang hilang selama pengujian.

2. Bagaimana Jika Kita Mengganti Binder dengan Solid Content yang Berbeda?

Sekarang, kita masuk ke contoh yang sering dijumpai dalam formulasi leather finishing.

Misalnya, kita ingin mengganti binder A dengan binder B. Kedua binder tersebut memiliki solid content yang berbeda.

Binder A memiliki solid content sebesar 30%, sedangkan binder B memiliki solid content sebesar 40%.

Jika kedua binder diaplikasikan dengan coating amount yang sama, yaitu 10 g/ft², berapa residu kering yang secara teoritis dihasilkan?

Untuk binder A, Residu kering = 30/100 × 10 = 3 g/ft².

Sedangkan untuk binder B, Residu kering = 40/100 × 10 = 4 g/ft².

Artinya, pada coating amount yang sama, binder B menghasilkan residu kering sekitar 1 gram per square foot lebih banyak dibandingkan binder A.

Sekarang, bagaimana jika kita ingin menggunakan binder B, tetapi mempertahankan jumlah residu kering yang sama seperti ketika menggunakan binder A?

Dengan kata lain, kita ingin mendapatkan residu kering sebesar 3 g/ft².

Perhitungannya adalah:

3 = 40/100 × coating amount

Sehingga:

Coating amount = 3 × 100 / 40

Coating amount = 7,5 g/ft².

Jadi, secara teoritis, kita hanya perlu mengaplikasikan binder B sebanyak 7,5 g/ft² untuk menghasilkan residu kering yang sama dengan binder A pada coating amount sebesar 10 g/ft².

Dari contoh ini, kita dapat melihat bahwa binder dengan solid content yang lebih tinggi membutuhkan coating amount yang lebih rendah untuk mencapai berat residu kering yang sama.

Namun, apakah ini berarti kita pasti lebih hemat jika menggunakan binder B?

Belum tentu.

Perhitungan tersebut hanya menunjukkan kesetaraan berat residu kering. Dalam praktiknya, binder A dan binder B mungkin memiliki kemampuan menutup permukaan, daya rekat, fleksibilitas, kekerasan film, serta efisiensi pembentukan film yang berbeda.

Oleh karena itu, pengurangan coating amount tetap perlu diuji untuk memastikan bahwa kualitas dan performa finishing yang dihasilkan masih memenuhi kebutuhan.

3. Bagaimana Jika Formulasi Finishing Tidak Hanya Mengandung Binder?

Dalam praktiknya, bahan finishing yang kita aplikasikan pada kulit tidak hanya terdiri dari binder.

Formulasi finishing dapat mengandung berbagai bahan lain, seperti pigmen, wax, bahan pembantu, dan air.

Setiap bahan dapat memiliki solid content yang berbeda. Karena itu, kita perlu mengetahui kontribusi masing-masing bahan untuk memperkirakan jumlah residu kering dari keseluruhan formulasi.

Secara teoritis, solid content campuran dapat dihitung berdasarkan berat setiap bahan dan nilai solid content-nya.

Sebagai contoh, jika kita mencampurkan 30 gram binder dengan solid content 40% dan 70 gram air, maka berat residu kering teoritis dari campuran tersebut adalah:

Residu dari binder = 30 × 40/100 = 12 gram.

48. Karena air dianggap menguap seluruhnya, residu kering teoritis campuran adalah 12 gram dari total campuran 100 gram.

Jadi, Solid content campuran = 12/100 × 100% = 12%.

Akan tetapi, bagaimana jika kita menggunakan banyak bahan dengan karakteristik yang berbeda? Bagaimana cara mengetahui solid content aktual dari campuran finishing yang telah kita siapkan untuk proses penyemprotan atau spraying?

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah melakukan pengujian residu kering melalui pemanasan.

4. Bagaimana Mengukur Solid Content Campuran Finishing?

Sebagai contoh, kita menyiapkan campuran bahan finishing yang akan digunakan untuk proses spraying.

Pertama, timbang wadah yang tahan terhadap suhu pengujian. Misalnya, kita menggunakan wadah aluminium dengan berat 0,50 gram.

Selanjutnya, masukkan 1 gram campuran bahan finishing ke dalam wadah tersebut.

Kemudian, sampel dipanaskan menggunakan oven pada kondisi pengujian yang telah ditentukan.

Misalnya, kita menggunakan suhu 110°C selama 60 menit sebagai percobaan awal.

Setelah pemanasan selesai, sampel didinginkan dengan cara yang konsisten, kemudian ditimbang kembali.

Misalnya, berat wadah beserta residu setelah pemanasan adalah 0,85 gram.

Maka, berat residu yang tersisa adalah:

Berat residu = 0,85 − 0,50 = 0,35 gram.

Karena berat sampel awal adalah 1 gram, maka, Solid content terukur = 0,35/1 × 100% = 35%.

Dengan demikian, sampel tersebut menghasilkan residu sebesar 35% berdasarkan kondisi pengujian yang digunakan.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Pemanasan pada suhu 110°C selama 60 menit apakah sudah dapat menghilangkan seluruh komponen volatil. Oleh karena itu, kondisi tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai metode standar untuk menentukan solid content.

Untuk mendapatkan hasil yang lebih dapat diandalkan, suhu dan waktu pengujian perlu divalidasi. Jika hasilnya akan dibandingkan dengan nilai pada TDS, metode pengujian yang digunakan juga harus sesuai dengan metode produsen atau standar yang relevan.

5. Menghitung Residu Kering Berdasarkan Coating Amount

Setelah mengetahui solid content campuran finishing sebesar 35%, kita dapat memperkirakan berat residu kering berdasarkan coating amount.

Misalnya, jumlah campuran finishing yang benar-benar terdeposit pada kulit adalah 10 g/ft².

Maka, Berat residu kering = coating amount × solid content

Berat residu kering = 10 × 35/100

Hasilnya adalah 3,5 g/ft².

Artinya, dari 10 gram campuran finishing yang terdeposit pada setiap square foot kulit, diperkirakan terdapat 3,5 gram residu setelah pengeringan sesuai dengan karakteristik pengujian tersebut.

Perlu diingat bahwa angka ini merupakan estimasi. Berat residu yang benar-benar terbentuk pada kulit dapat berbeda karena penyerapan bahan ke dalam kulit, kehilangan bahan selama aplikasi, serta perbedaan kondisi pengeringan.

6. Kesimpulan

Jadi, dengan memahami solid content, kita dapat memperkirakan berapa banyak residu kering yang berasal dari bahan finishing yang diaplikasikan pada kulit.

Pengetahuan ini sangat berguna ketika kita ingin mengganti satu jenis binder dengan binder lain yang memiliki solid content berbeda, atau ketika kita ingin mengoptimalkan coating amount tanpa mengabaikan kualitas hasil finishing.

Dalam aplikasi yang sangat memperhitungkan berat material, seperti kulit untuk pelapis kursi pesawat atau aviation leather, informasi ini juga dapat membantu memperkirakan kontribusi residu finishing terhadap berat akhir kulit.

Namun, perlu diingat bahwa jumlah residu kering bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas finishing. Kemampuan menutup permukaan, daya rekat, fleksibilitas, ketahanan abrasi, dan persyaratan performa lainnya tetap harus diperhatikan.

Dengan demikian, kita tidak hanya berfokus pada berapa banyak bahan finishing yang diaplikasikan, tetapi juga pada berapa banyak residu yang dihasilkan dan bagaimana residu tersebut memengaruhi performa kulit.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.